blok ini di peruntukan bagi kita semua yang mau peduli dengan bahasa dan budaya bangsa

Kamis, 11 Agustus 2016

TEKS ANEKDOT

Teks Anekdot : Pengertian, Ciri-ciri, Struktur, Tujuan, Dan Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot – Dalam pembahasan kali ini kita akan membahas materi mengenai teks anekdot. Adapun hal-hal yang akan kita bahas meliputi pengertian, ciri-ciri, struktur,tujuan,serta kaidah kebahasaan dari teks anekdot. Hal-hal tersebut akan disajikan dalam bentuk bagian-bagian sebagai berikut: Pada bagian pertama akan dibahas mengenai pengertian dari teks anekdot, bagian ini berguna agar pembaca terlebih dahulu mengetahui serta mengenal apa itu teks anekdot sebelum dilanjutkan ke bagian selanjutnya yaitu ciri-ciri teks anekdot, struktur teks anekdot, tujuan dan terakhir adalah kaidah kebahasaan dari teks anekdot itu sendiri. Pengertian Teks Anekdot Teks anekdot merupakan sebuah karangan cerita atau kisah yang bisa jadi berdasarkan pengalaman hidup seseorang yang ditulis secara singkat, pendek dan lucu tentang berbagai topik seperti pendidkan, politik, hukum, sindiran, kritikan, dan sebagainya. Dalam teks anekdot itu sendiri, perlu diketahui bahwa teks anekdot tidak hanya berisikan kisah-kisah cerita lucu semata melainkan terdapat juga amanat, pesan moral, serta ungkapan tentang suatu kebenaran secara umum. Ciri-ciri Teks Anekdot Setelah kita mengetahui pengertian dari teks anekdot, teks anekdot juga memiliki ciri-ciri yang dapat berguna sebagai pembeda dari teks-teks lainya. Ciri-ciri tersebut dapat kalian lihat sebagai berikut: 1. Teks anekdot bersifat humor atau lelucon, artinya teks anekdot berisikan kisah-kisah lucu atau bualan. 2. Bersifat menggelitik, artinya teks anekdot akan membuat pembacanya merasa terhibur dengan kelucuan yang ada dalam teks. 3. Bersifat menyindir 4. Bisa jadi mengenai orang penting 5. Memiliki tujuan tertentu 6. Kisah cerita yang disajikan hampir menyerupai dongeng 7. Menceritakan tentang karakter hewan dan manusia sering terhubung secara umum dan realistis Struktur Teks Anekdot Teks anekdot juga memiliki struktur-struktur dalam pembentukannya. Struktur teks anekdot antara lain Abstraksi, orientasi, event, krisis, reaksi, koda, dan Re-orientasi. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai tiap bagain struktur kalian bisa simak yang di bawah ini: • Abstraksi, bagian ini terletak pada bagian awal paragraf, pada bagian ini berisikan gamabaran awal tentang isi dari teks anekdot. • Orientasi, pada bagian ini berisikan awal mula, latar belakang terjadinya suatu peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam teks. • Event, berisikan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam teks. • Krisis, bagian ini berisikan tentang pemunculan permasalahan yang terjadi dalam teks anekdot. • Reaksi, bagian ini berisikan langkah penyelesaian masalah yang timbul dalam bagian krisis. • Koda, pada bagian ini akan muncul perubahan yang terjadi pada tokoh dalam teks. • Re-orientasi, bagian ini merupakan bagian akhir dari teks sekaligus sebagai penutup dari teks itu sendiri. Tujuan Teks Anekdot Seperti kita ketahui teks anekdot juga memiliki tujuan yang di tujukan untuk pembaca dalam setiap kisah cerita yang ditulis. Tujuan-tujuan tersebut merupakan latar belakang bagi pengarang atau penulis untuk menulis sebuah teks anekdot. Berikut di bawah ini merupakan beberapa tujuan dari penulisan teks anekdot. 1. Untuk membangkitkan tawa bagi pembacanya. 2. Sebagai saran penghibur. 3. Sebagai saran pengkritik. Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot Teks anekdot juga memiliki kaidah kebahasaan tersendiri berbeda dari teks lainnya. Kaidah kebahasaan itu bisa kalian lihat di bawah ini. • Menggunakan kata keterangan waktu lampau • Menggunakan kata penghubung • Terdapat penggunaan kata kerja • Urutan peristiwa berdasarkan waktu • Menggunakan jenis pertanyaan retorik, yaitu kalimat pertanyaan yang tidak mengharuskan untuk dijawab.

Senin, 13 Juni 2016

Satuan dan Kegiatan Pramuka Penegak

Satuan dan Kegiatan Pramuka Penegak yang kita bahas kali ini adalah lanjutan dari Materi Pramuka sebelumnya tentang Golongan Pramuka Penegak. Pada artikel kali ini kita akan membahas seperti pengorganisasian pramuka penegak serta event event pramuka yang diikuti oleh pramuka tingkat penegak. Pengorganisasian Pramuka Penegak
Pramuka Penegak Pramuka penegak dikumpulkan dalam kelompok-kelompok. Kelompok atau satuan terkecil disebut ‘sangga’ yang terdiri atas 4 – 8 pramuka penegak. Sangga dinamai dengan nama-nama Perintis, Pencoba, Pendobrak, Penegas, dan Pelaksana, atau nama-nama lain sesuai aspirasi anggota angga. Sangga dipimpin secara bergantian oleh Pemimpin Sangga (disingkat Pinsa) yang dipilih dari dan oleh anggota sangga yang bersangkutan. Tiga atau empat sangga dengan total anggota antara 12 sampai 32 dihimpun dalam satuan yang lebih besar yang disebut sebagai ‘ambalan’. Ambalan dipimpin oleh seorang Pemimpin Sangga Utama yang disebut ‘Pradana’ yang dipilih dari dan oleh para Pemimpin Sangga dalam pasukan tersebut. Pradana yang terpilih tetap menjadi Pemimpin Sangga bagi sangganya. dalam kegiatannya, ambalan penegak dibimbing oleh seorang Pembina Penegak dan seorang Pembantu Pembina Penegak yang dipanggil dengan sebutan ‘kakak’ baik untuk putra maupun putri. Nama ambalan diambilkan dari nama-nama pahlawan atau tokoh sejarah, pewayangan ataupun legenda. Dalam ambalan dibentuk juga ‘Dewan Ambalan Penegak’ atau ‘Dewan Penegak’ yang diketuai oleh Pradana dengan dibantu oleh perangkatnya seperti Pemangku Adat, Kerani (Sekretaris), Bendahara, dan beberapa anggota dengan masa bakti selama satu tahun. Tugas Dewan Penegak antara lain: • Merancang dan melaksanakan program kegiatan • Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan • Merekrut anggota baru • Membantu sangga dalam mengintegrasikan anggota baru dalam sangga • Menyiapkan materi yang akan dibahas dalam Majelis Penegak Selain itu untuk membina kepemimpinan dan rasa tanggung jawab dibentuk pula ‘Dewan Kehormatan Penegak’ yang bertugas menentukan pelantikan, penghargaan atas prestasi dan atau jasanya dan tindakan atas pelanggaran terhadap kode kehormatan serta merehabilitasi anggota ambalan. Kegiatan Pramuka Penegak Sebagai Pramuka penegak, ada cukup banyak kegiatan / event pramuka yang boleh diikuti oleh golongan ini. Berikut diantaranya : • Raimuna • Gladian Pimpinan Satuan (Dian Pinsat) • Perkemahan Wirakarya (PW) • Perkemahan Bhakti • PERAN SAKA (Perkemahan Antar Saka) • Pengembaraan • Latihan Pengembangan Kepemimpinan • PPDK (Pelatihan Pengelolaan Dewan Kerja) • Kursus Instruktur Muda • Penataan, Seminar dan Lokakarya • Sidang Paripurna • Musppanitera • Ulang Janji.

Kamis, 18 Februari 2016

GABUNGAN IMBUHAN ME-I DAN ME-KAN

Gabungan imbuhan (konfiks) me-kan dan me-i kerap membingungkan. Banyak kata dalam bahasa Indonesia yang dapat diberi kedua konfiks ini: melemparkan—melempari,menjauhkan—menjauhi, mengajarkan—mengajari, dll. Berikut beberapa pola penggunaan tiap-tiap konfiks tersebut: 1. me-kan: objek bergerak; me-i: objek diam. Contoh: • Saya melemparkan kertas kepada kamu (kertas bergerak). • Saya melempari kamu dengan kertas (kamu diam). 2. me-kan: subjek diam; me-i: subjek bergerak. Contoh: • Saya menjauhkan buku itu (saya diam, buku pindah tempat). • Saya menjauhi buku itu (saya pindah tempat, buku diam). 3. me-kan: objek bukan manusia; me-i: objek manusia. Contoh: • Saya mengajarkan matematika kepada adik (matematika bukan manusia). • Saya mengajari adik matematika (adik manusia). Sesuai sifat dinamis bahasa, belum semua kasus perbedaan me-kan dan me-i bisa dirumuskan. Pola perbedaan ini akan dilengkapi seiring dengan penemuan bentuk lain. Anda punya bentuk lain yang belum cocok dengan pola di atas? Lalu bagaimana perbedaan kata “ Menugasi” dan “menugaskan” marilah kita bentuk kalimat dengan kata menugasi dan menugaskan secara tepat; kata menugasi berarti ‘memberi tugas’ sedangkan kata menugaskan berarti ‘menjadikan (sebagai) tugas’. Pak Guru menugasi murid-muridnya menyelesaikan pekerjaan itu. Pak Guru menugaskan penyelesaian pekerjaan itu kepada murid-muridnya. Atau: Pak Guru menugaskan kepada murid-muridnya menyelesaikan pekerjaan itu. Kalau kalimat dengan kata kerja bentuk me- itu kita ubah menjadi kalimat dengan kata kerja bentuk di-, maka hasilnya sebagai berikut: Murid-murid ditugasi Pak Guru menyelesaikan pekerjaan itu. Penyelesaian pekerjaan itu ditugaskan Pak Guru kepada murid-muridnya. Murid-murid ditugasi artinya ‘murid-murid diberi tugas’ Penyelesaian pekerjaan ditugaskan artinya ‘penyelesaian pekerjaan dijadikan tugas’ Jadi, kata menugasi haruslah diikuti oleh orang yang berkepentingan (beneaktif), sedangkan kata menugaskan diikuti oleh obyek (obyektif). Cobalah Anda perhatikan sekali lagi baik-baik contoh-contoh di atas, kemudian Anda camkan arti kata-kata dengan akhiran –i dan –kan yang terkandung pada kata-kata itu.

Rabu, 10 Februari 2016

Jenis-Jenis Konjungsi antarklausa

Berdasarkan fungsinya konjungsi dikelompokan ke dalam tiga bentuk, diantaranya adalah: 1. Konjungsi antar klausa Konjungsi antar klausa adalah kata hubung yang mengubungkan dua buah klausa atau lebih. Ada tiga macam konjungsi antara klausa, yaitu, korelatif, subordinatif, dan koordinatif. A. Konjungsi korelatif konjungsi ini menghubungkan dua buah klausa yang memiliki hubungan sintaksis setara. Macam-macam konjungsi korelatif: baik … maupun … tidak hanya …, tetapi ( …) juga … bukan hanya …, melainkan … (se)demikian (rupa) … sehingga… apa(kah) … atau … entah … entah … jangankan…,…pun… . Contoh: Baik Riski maupun Nasar keduanya adalah anak yang baik. Budi bukan hanya pelukis yang handal, tetapi juga sebagai seniman yang cerdas. Jangankan uang segudang, sepeser pun aku tak punya. Aku tidak tahu harus berbuat apa entah pergi saja entah datang menemuinya. Dia menghias bunga itu sedemikian rupa sehingga terlihat sangat indah. B. Konjungsi subordinatif Konjungsi ini menghubungkan dua buah klausa yang memiliki hubungan sintaksis yang tidak sama (bertingkat). Macam-macam konjungsi subordinatif: …..sebelum… jika…., maka…. …agar…. Meskipun/bagaimanapun….. , ….. dan lain-lain. Contoh: Ani telah pergi ke Jakarta sebelum Budi datang menyusulnya. Meskipun dia miskin, dia sangat dermawan kepada setiap orang. Saya giat belajar agar tidak menjadi anak yang malas. Jika aku memliki banyak uang, aku akan pergi ke luar negeri. Meskipun dia sangat nakal, bagaimanapun juga orang tuanya tetap menyayanginya. c. Konjungsi koordnatif Konjungsi ini sama seperti korelatif yaitu menghubungkan dua buah klausa yang sejajar, tetapi konjungsi ini hanya terjadi pada klausa-klausa yang sederhana. Macam-macam konjungsi koordinatif …. dan … … tetapi … … atau … Contoh: Andi membeli buku dan baju di toko itu. Aku ingin pergi tetapi tidak diijinkan oleh ayahku. Kau boleh datang bersamaku tau bersama Indri.

KATA KERJA MATERIAL DAN KATA KERJA RELASIONAL

Kata Kerja Material Kata kerja material adalah kata kerja (verba) yang menunjukan aktifitas fisik yang dapat dilihat secara nyata. Contoh kata kerja material adalah: menari, membaca, dan menulis. Struktur kalimat dari verba material adalah: Subjek (aktor) + Verba Material + Objek (sasaran). Contoh kalimatnya: 1. Ibu memasak nasi Kata Ibu sebagai subjek (aktor), memasak sebagai verba materialnya, dan nasiadalah sebagai objek (sasaran). 2. Ayah membaca koran Kata Kerja Relasional Kata kerja relasional lebih menekankan pada verba atau kata kerja yang berfungsi sebagai penghubung antara subjek dan pelengkap. Kalimat yang mengandung verba relasional harus memiliki pelengkap, jika tidak maka kalimatnya akan terlihat rancu. Struktur kalimat dari verba relasional adalah: Subjek + Verba relasional + pelengkap Contoh kalimatnya: 1. Kakak merupakan anak tertua Kakak sebagai objek, merupakan sebagai verba relasional, dan anak tertuamerupakan pelengkap yang harus ada. 2. Ayah bagaikan pahlawan super bagiku Secara singkat dapat dipahami bahwa kata kerja material itu kata yang menunjukkan subjek melakukan sesuatu. Sedangkan kata kerja relasional itu kata yang menunjukan hubungan sebab akibat.

Minggu, 10 Januari 2016

CARA MEMBUAT TEKS PIDATO

Seperti telah dijelaskan pada postingan yang lalu (baca dulu Macam-Macam Pidato dan Contoh Pidato), bahwa pidato dapat dilakukan dengan tanpa menggunakan naskah atau dengan menggunakan kerangka sebagai pedoman atau pegangan, dan atau dengan menggunakan naskah baik dihafal maupun dibacakan. Bila Anda melakukan pidato dengan menggunakan naskah, maka yang pertama kali harus Anda lakukan adalah menyiapkan naskah pidato tersebut. Untuk dapat menulis naskah pidato secara efektif, Anda harus memiliki pengetahuan tentang teknik menyusun atau menulis naskah pidato. Untuk itu ikutilah uraian berikut. Teknik atau Cara Menulis Naskah Pidato Pada uraian di atas telah dijelaskan bahwa menulis naskah pidato harus melalui tiga kegiatan yaitu, mengumpulkan bahan, membuat kerangka, dan menguraikan isi naskah pidato secara terperinci. Penjelasannya adalah sebagai berikut. a. Mengumpulkan Bahan Setelah Anda meneliti persoalan dan merumuskan tujuan pidato serta menganlisis pendengar, maka Anda sudah siap untuk menggarap naskah pidato. Anda boleh mulai menulis naskah pidato dengan menggunakan hal apa yang telah Anda ketahui mengenai persoalan yang akan Anda bicarakan/sampaikan. Jika hal ini Anda anggap kurang cukup, maka Anda harus mencari bahan-bahan tambahan yang berupa fakta, ilustrasi, cerita atau pokok-pokok yang konkret untuk mengembangkan pidato ini. Tidak ada salahnya Anda bertanya kepada orang/pihak yang mengetahui persoalan yang akan Anda bicarakan. Buku-buku, perturan-peraturan, majalah-majalah, dan surat kabar merupakan sumber informasi yang kaya yang dapat Anda gunakan sebagai bahan dalam rangka menguraikan isi pidato Anda. b. Membuat Kerangka Pidato Kerangka dasar dapat Anda buat sebelum mencari bahan-bahan, yaitu dengan menentukan pokok-pokok yang akan dibicarakan, sedangkan kerangka yang terperinci baru dapat Anda buat setelah bahan-bahan selesai Anda kumpulkan. Dengan bahan-bahan itu Anda dapat menyusun pokok-pokok yang paling penting dalam tata urut yang baik, di bawah pokok-pokok utama tadi. Di dalam kerangka ini harus terlihat adanya kesatuan dan koherensi antarbagian Sebagai gambaran perhatikanlah contoh kerangka pidato di bawah ini. Contoh Kerangka Pidato Inti dari kerangka pidato adalah: (1) pendahuluan, (2) isi, dan (3) penutup 1. Pendahuluan: bagian pendahuluan memuat salam pembuka, ucapan terima kasih (bila ada yang diberi ucapan), dan kata pengantar untuk menuju kepada isi pidato; 2. Isi: bagian ini memuat uraian pokok yang terdiri atas topik atau pokok utama dan sub-subtopik yang memperjelas atau menghubungkan dengan topik utama; 3. Penutup: bagian penutup memuat kesimpulan, harapan (bila ada), dan salam penutup. c. Menguraikan isi pidato Dengan menggunakan kerangka yang telah Anda buat, ada dua hal yang Anda lakukan: (1) Anda dapat mempergunakan kerangka tersebut untuk berpidato, yaitu berpidato dengan menggunakan metode ekstemporan, dan (2) menulis atau meyusun naskah pidato secara lengkap yang Anda bacakan atau Anda hafalkan. Bagian-bagian yang terdapat dalam dalam kerangka pidato di atas akan dijelaskan lebih lanjut pada uraian berikut ini. Butir (1) dan butir(3), yaitu bagian pendahuluan dan bagian penutup tidak memuat inti pembicaraan atau isi pidato, sehingga tidak diuraikan secara terperinci di sini tetapi dapat dilihat langsung pada contoh naskah pidato setelah bahasan ini selesai dibicarakan. Jadi, yang akan diperjelas secara rinci adalah bagian isi pidato d. Struktur Isi Pidato Struktur isi pidato adalah rangkaian isi pidato dari awal hingga akhir. Rangkaian ini disusun agar pidato berlangsung menarik dan tujuan pidato tercapai dengan baik. Ada beberapa cara merangkai isi pidato, antara lain: (1) mengikuti alur dasar pidato, dan (2) mengikuti pola organisasi pidato. (1) Alur dasar pidato, yaitu rangkaian isi pidato yang mengikuti alur dasar pidato yang bergerak melalui tiga tahap: (a) tahap perhatian, yaitu tahap pertama yang dilakukan pembicara dengan baik; (b) tahap kebutuhan, yaitu tahap yang dilakukan pembicara dalam menjelaskan pentingnya masalah yang akan dibicarakan sehingga pendengar akan berusaha memahami masalah atau hal-hal penting yang disampaikan pembicara. (c) tahap penyajian, yaitu merupakan tahap pembicara menyajikan materi pidato yang telah dipersiapkan melalui naskah kerangka pidato. Itulah tahap-tahap yang dilalui seorang pembicara dalam menyelesaikan pidatonya, tetapi penjelasan tahap-tahap di atas adalah tahap yang dilalui pada jenis pidato informasi. Sekarang mari kita lihat beberapa pola organisasi pidato yang dapat Anda pilih! (2) Pola Organisasi Pidato, pola organisasi pidato dapat digolongkan ke dalam tiga tipe besar, yaitu (a) pola uraian; (b) pola sebab, dan (c) pola topik. Baiklah mari ikuti uraiannya. 1. pola uraian; ada dua macam urutan yang digunakan untuk menyusun/menulis isi pidato, yaitu: urutan kronologis dan urutan ruang. Urutan kronologis, adalah susunan isi yang dimulai dari periode atau data tertentu, bergerak maju atau mundur secara sistematis. Sementara itu, urutan ruang adalah susunan isi yang berurutan berdasarkan kedekatan fisik satu dengan yang lainnya. Umpamanya, membicarakan mulai dari SD A kemudian menunjuk ke SD B yang letaknya paling dekat dengan SD A tadi, dan seterusnya. 2. pola sebab; sebagaimana terlihat dari namanya, organisasi pidato yang menggunakan pola sebab yang bergerak dari satu analisis sebab di saat ini bergerak ke arah analisis akibat di masa yang akan datang, atau dari deskripsi kondisi di saat ini bergerak ke arah analisis sebab-sebab yang memunculkannya. 3. pola topik; pola organisasi pidato yang menggunakan pola topik dilakukan apabila materi yang dibicarakan lebih dari satu periode atau kelompok. Oleh karena itu, di dalam isi pidato akan terdapat beberapa subtopik. Tahap-tahap Menyusun/Menulis Naskah Pidato Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam menulis naskah pidato yaitu Memilih Subjek dan Membatasi Tujuan Umum Pidato 1. Membatasi subjek untuk mencocokkan waktu yang tersedia, menjaga kesatuan dan kepaduan pidato 2. Menyusun ide pokok menurut tahap-tahap urutan alur dasar pidato (perhatian, kebutuhan, kepuasan, dan lain-lain) atau menurut salah satu pola organisasi. 3. Memasukkan dan menyusun submateri yang berhubungan di setiap pokok. 4. Mengisi materi pendukung yang memperkuat atau membuktikan ide. 5. Memeriksa draft kasar, untuk meyakinkan bahwa subjek telah cukup terekam dan mencerminkan tujuan khusus pidato. contoh : 1. Salam pembuka Pidato biasanya diawali dengan kata pembuka, misalnya: a. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. b. Salam sejahtera untuk kita semua. c. Bapak, Ibu, dan hadirin sekalian yang terhormat. 2. Pendahuluan, adalah pengantar ke arah pokok-pokok materi yang akan disampaikan. Bagian pendahuluan biasanya berisi sebagai berikut. a. Puji syukur kepada Tuhan. b. Ucapan terima kasih kepada pihak tertentu. c. Maksud menyampaikan pidato. Kemudian diikuti oleh sedikit penjelasan mengenai pokok masalah yang akan kita uraikan. 3. Isi atau inti pidato berisi uraian yang perlu disampaikan. Isi pidato merupakan uraian yang menjelaskan secara rinci semua materi dan persoalan yang dibahas dalam pidato. Sampaikanlah materi utama yang hendak dicarakan. Kemukakan contoh, ilustrasi, cerita-cerita yang berkenaan dengan materi utama. Hindari penyampaian materi yang bersifat menggurui. 4. Kesimpulan Kesimpulan ini sangat penting karena dengan menyimpulkan segala sesuatu yang telah dibicarakan dan ditambah dengan penjelasan dan anjuran, para hadirin dapat menghayati maksud dan tujuan semua yang dibicarakan. Hal ini karena apa yang terakhir dikatakan biasanya lebih mudah dan lebih lama diingat. 5. Salam penutup Tutuplah pidato dengan kesan yang baik. Ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung terlaksananya pidato tersebut. a. Atas perhatiannya Bapak dan Ibu, saya ucapkan terima kasih b. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu’alaikum Wr. Wb Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberi nikmat serta karunia-Nya sehingga kita semua dapat berkumpul bersama di hari yang berbahagia ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun kami semua hingga saat ini. Dan kepada Yth. Bapak/Ibu kepala sekolah Bapak/ibu wakil kepala sekolah Bapak ibu guru Bapak ibu penilai ujian parktik bahasa Indonesia yang saya hormati dan teman-teman semua yang saya cintai, kita semua tentunya tahu dan menyadari betapa banyak terjadinya kenakalan remaja saat ini, dengan perbuatan negatif dan menyimpang di masyarakat. Seperti sudah mengenal rokok dan narkoba, yang pada awalnya hanya mencoba dan menjadi ketagihan sampai kecanduan. Adapun penyebab masalah dari kenakalan remaja ini yang diakibatkan dari kesalahan orang tua dalam cara mendidik atau orang tua yang terlalu sibuk sehingga tidak sempat memperhatikan anak mereka, atau juga karena pergaulan remaja saat ini yang sudah terjerumus dengan pergaulan yang salah. Boleh saja kita mempunyai banyak teman, namun kita juga harus berhati-hati untuk memilih teman, agar kita tidak terjerumus pada pergaulan yang salah. Masih banyak lagi kenakalan remaja yang terpengaruh oleh pergaulan yang salah, seperti mabuk-mabukan, tawuran antar pelajar, geng motor, dan bahkan hal tersebut banyak menimbulkan korban dari banyak remaja yang terlibat dalam pergaulan yang salah. Mari kita jauhi perilaku-perilaku menyimpang tersebut, karena hal tersebut hanya akan merugikan diri sendiri. Gunakanlah masa-masa remaja dengan hal positif dan bermanfaat bagi diri sendiri, orang tua dan juga bangsa. Teman-temanku yang saya banggakan, selektiflah dalam mencari teman dan tetap ingatlah bahwa tak ada satupun orang tua yang menginginkan ananya berperilaku buruk. Sampai disini yang dapat saya sampaikan dalam pidato ini, jikalau ada kesalahan mohon untuk dimaklumi. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Senin, 02 November 2015

PENDEKATAN SAINTIFIK DAN MODEL PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013

Jika anda menemukan artikel pendekatan saintifik dan model pembelajaran kurikulum 2013ini dalam usaha untuk belajar mengimplementasikan kurikulum 2013 di kelas anda, maka artikel ini adalah bacaan yang pas untuk dipelajari. Isi dari artikel ini sebagian besar mendasarkan pada pedoman kurikulum 2013 yang dikeluarkan oleh Kemendikbud. Berikut adalah uraian singkat tentang pendekatan saintifik, model pembelajaran dan metode pembelajaran di dalam kurikulum 2013. PENDEKATAN SAINTIFIK Ada lima kegiatan utama di dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik, yaitu: 1. Mengamati Mengamati dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak. 2. Menanya Menanya untuk membangun pengetahuan peserta didik secara faktual, konseptual, dan prosedural, hingga berpikir metakognitif, dapat dilakukan melalui kegiatan diskusi, kerja kelompok, dan diskusi kelas. 3. Mencoba Mengeksplor/mengumpulkan informasi, atau mencoba untuk meningkatkan keingintahuan peserta didik dalam mengembangkan kreatifitas, dapat dilakukan melalui membaca, mengamati aktivitas, kejadian atau objek tertentu, memperoleh informasi, mengolah data, dan menyajikan hasilnya dalam bentuk tulisan, lisan, atau gambar. 4. Mengasosiasi Mengasosiasi dapat dilakukan melalui kegiatan menganalisis data, mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi. 5. Mengkomunikasikan Mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik, dapat dilakukan melalui presentasi, membuat laporan, dan/ atau unjuk kerja. MODEL PEMBELAJARAN Pengertian model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Ada banyak model pembelajaran dan beberapa yang disarankan di dalam kurikulum 2013 diantaranya adalah: 1. Inquiry Based Learning 2. Discovery Based Learning 3. Project Based Learning 4. Problem Based Learning Berikut ini sedikit uraian penjelasan langkah-langkah dari tiap model pembelajaran. 1. Inquiry Based Learning: Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut: • Observasi/Mengamati • Mengajukan pertanyaan • Mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban/ mengasosiasi atau melakukan penalaran • Mengumpulkan data yang terakait dengan dugaan atau pertanyaan yang diajukan/memprediksi dugaan • Merumuskan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah atau dianalisis, mempresentasikan atau menyajikan hasil temuannya. 2. Discovery Based Learning: Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut: • Stimulation (memberi stimulus); bacaan, atau gambar, atau situasi, sesuai dengan materi pembelajaran/topik/tema. • Problem Statement (mengidentifikasi masalah); menemukan permasalahan menanya, mencari informasi, dan merumuskan masalah. • Data Collecting (mengumpulkan data); mencari dan mengumpulkan data/informasi, melatih ketelitian, akurasi, dan kejujuran, mencari atau merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah • Data Processing (mengolah data); mencoba dan mengeksplorasi pengetahuan konseptualnya, melatih keterampilan berfikir logis dan aplikatif. • Verification (memferifikasi); mengecek kebenaran atau keabsahan hasil pengolahan data, mencari sumber yang relevan baik dari buku atau media, mengasosiasikannya menjadi suatu kesimpulan. • Generalization (menyimpulkan); melatih pengetahuan metakognisi peserta didik. 3. Problem Based Learning; Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut: • Orientasi pada masalah; mengamati masalah yang menjadi objek pembelajaran. • Pengorganisasian kegiatan pembelajaran; menyampaikan berbagai pertanyaan (atau menanya) terhadap malasalah kajian. • Penyelidikan mandiri dan kelompok; melakukan percobaan (mencoba) untuk memperoleh data dalam rangka menyelesaikan masalah yang dikaji. • Pengembangan dan Penyajian hasil; mengasosiasi data yang ditemukan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber. • Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah; 4. Project Based Learning; Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut: • Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek; langkah awal agar peserta didik mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang ada. • Mendesain perencanaan proyek; menyusun perencanaan proyek bisa melalui percobaan. • Menyusun jadwal sebgai langkah nyata dari sebuah proyek. • Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek; mengevaluasi proyek yang sedang dikerjakan. • Menguji hasil; Fakta dan data dihubungkan dengan berbagai data lain. • Mengevaluasi kegiatan/pengalaman; mengevaluasi kegiatan sebagai acuan perbaikan untuk tugas proyek pada mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran lain. METODE PEMBELAJARAN Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Di dalam kurikulum 2013 disarankan metode pembelajaran dalam kelas diantaranya adalah: - Diskusi - Eksperimen - Demonstrasi - Simulasi Jika semua itu dapat diimplementasikan dengan benar sesuai yang diharapkan maka keseluruhan kompetensi yang mencakup 4 ranah, yaitu kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan akan dapat dicapai oleh peserta didik sesuai dengan tuntutan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).