blok ini di peruntukan bagi kita semua yang mau peduli dengan bahasa dan budaya bangsa

Senin, 03 September 2012

BAB 1 BAHASA INDONESIA KELAS 11

BAB 1 MENYIMAK UNTUK MENYIMPULKAN INFORMASI YANG TIDAK BERSIFAT PERINTAH DALAM KONTEKS BEKERJA A. Kegiatan Menyimak dan Memahami Informasi Nonverbal Menyimak merupakan salah satu kegiatan berbahasa yang dapat menambah atau memperluas pengetahuan. Keterampilan menyimak perlu dilatih secara terus-menerus dan berkesinambungan. Proses pelatihan menyimak menuntut adanya kesiapan mental dan kesehatan fisik serta motivasi atau kemauan secara sadar untuk mengikuti seluruh isi simakan. Pada dasarnya menyimak adalah kegiatan menyerap informasi yang disampaikan secara lisan dengan tidak sekadar menggunakan indera pendengaran, tetapi juga berupaya menangkap isi atau pesan serta memahami makna informasi yang disampaikan. Hasil simakan dapat diungkapkan kembali dengan bahasa sendiri dengan tidak mengubah pengertian dasar informasi sumber. Proses menyimak menuntut motivasi dan perhatian dari pendengar. Tanpa keinginan dan perhatian, sulit mengharapkan hasil yang memuaskan. Berdasarkan caranya, menyimak terdiri atas beberapa macam, yakni, seperti berikut : 1. Menyimak Intensif menyimak memahami secara terperinci, teliti, dan mendalami bahan yang disimak. 2. Menyimak Ekstensif menyimak memahami secara sepintas dan umum dalam garis-garis besar atau butir-butir penting tertentu. 3. Menyimak untuk Belajar melalui kegiatan menyimak, seseorang mempelajari berbagai hal yang dibutuhkan. Misalnya, para siswa menyimak ceramah guru bahasa Indonesia, para siswa mendengarkan suara radio, televisi, dan sebagainya. 4. Menyimak untuk Menghibur menyimak sesuatu untuk menghibur dirinya. Misalnya, menyimak pembacaan cerita-cerita lucu, pertunjukan sandiwara, film, dan sebagainya. 5. Menyimak untuk Menilai menyimak mendengarkan, memahami isi simakan, menelaah, mengkaji, menguji, dan membandingkan dengan pengalaman serta pengetahuan menyimak. 6. Menyimak Diskriminatif menyimak untuk membedakan bunyi suara. Dalam belajar bahasa Inggris, misalnya siswa harus dapat membedakan bunyi (i) dan (i:). 7. Menyimak Pemecahan Masalah menyimak mengikuti uraian pemecahan masalah secara kreatif dan analisis yang disampaikan oleh si pembicara. Mungkin juga penyimak dapat memecahkan masalah yang dihadapinya, secara kreatif dan analisis setelah yang bersangkutan mendapat informasi dari menyimak sesuatu. Untuk dapat mengungkapkan kembali informasi simakan yang diterima dengan baik dan memadai, kita dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut. 1. Perhatikan judul wacana yang akan dilisankan. 2. Catatlah kata-kata kunci yang dianggap penting berupa frasa atau klausa. 3. Catatlah ide-ide pokok setiap paragraf. 4. Catatlah fakta-fakta atau data berupa angka, persentase, atau perbandingan. 5. Uraikan kembali dalam bentuk ikhtisar berdasarkan data-data yang dicatat. Informasi hasil simakan dapat dikemukakan atau disampaikan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Informasi verbal berwujud uraian, ulasan, atau penjelasan dan dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan. Informasi ini dianggap lebih mudah dicerna dan dipahami. Contoh informasi verbal: Sulistya mengatakan UN lebih banyak menimbulkan penderitaan bagi sekolah swasta dan pinggiran. Bagaimana mungkin sekolah pinggiran yang sarana, prasarana, kualitas SDM, dan pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM)-nya sangat terbatas disamakan dengan sekolah yang SPM-nya lengkap dan pada umumnya didominasi sekolah negeri perkotaan. UN yang diselenggarakan setiap tahun hanya akan menambah persoalan dan pemborosan APBN, jika hasil ujian periode sebelumnya tidak ditindaklanjuti dengan upaya peningkatan kualitas pembelajaran pada sekolah yang angka kelulusannya rendah. Informasi berbentuk nonverbal cenderung bersifat visual, berupa bentuk atau gambar serta garis-garis yang memiliki ciri-ciri tersendiri dan cenderung perlu pengamatan lebih khusus. Contohnya: grafik, denah, bagan, diagram, atau matriks. Berikut ini pengertian dan contoh bentuk informasi nonverbal. 1. Grafik Grafik adalah gambaran pasang surutnya suatu keadaan atau data yang ada dengan garis atau gambar. Grafik dibedakan menjadi tiga macam, yaitu grafik batang, grafik garis, dan grafik lingkaran. a. Grafik batang adalah lukisan naik turunnya data berupa batang atau balok dan dipakai untuk menekankan adanya perbedaan tingkatan b. Grafik garis adalah lukisan naik turunnya data berupa garis yang dihubungkan dari titik-titik data secara berurutan. Grafik ini dipakai untuk menggambarkan perkembangan atau perubahan dari waktu ke waktu. c. Grafik lingkaran adalah gambaran naik turunnya data berupa lingkaran untuk menggambarkan persentase dari nilai total atau seluruhnya. 2. D iagram Diagram adalah (gambaran buram, sketsa) untuk memperlihatkan atau menerangkan sesuatu. Bentuk-bentuk diagram antara lain adalah diagram arus (bagan alur), diagram balok, diagram gambar, diagram garis, diagram lingkaran, diagram cabar, dan diagram pohon. Contoh grafik Contoh Grafik lingkaran: Persentase Usia Pegawai PT Gajah Putih tahun 2010 3. Tabel Tabel adalah daftar yang berisi ikhtisar dan sejumlah data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak. 4. Bagan Bagan adalah gambaran secara analisis atau terurai tentang proses yang terjadi di alam, teknologi, dan masyarakat manusia. Bagan digunakan untuk membantu memperjelas proses kerja. 5. Peta Peta adalah gambar atau lukisan pada kertas yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung-gunung, dan sebagainya atau representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, batas, sifat permukaan, dan sebagainya. 6. D enah Denah adalah gambar yang menunjukkan letak kota, jalan, peta, atau gambar rancangan bangunan. 7. Matriks Matriks adalah tabel yang disusun dalam lajur dan jajaran sehingga butir-butir uraian yang diisikan dapat dibaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan. B. Pengalihan Informasi Verbal menjadi Nonverbal Informasi yang kita simak perlu ditelaah isinya berdasarkan kepentingan atau maksud yang terkandung di dalamnya. Bentuk-bentuk pengungkapan informasi baik yang verbal maupun nonverbal masing masing selalu membutuhkan penyampaian informasi. Adakalanya suatu informasi lebih tepat disampaikan dengan penyajian verbal karena lebih memerlukan banyak penjelasan daripada bentuk visual. Namun, ada informasi yang lebih mudah dicerna karena disajikan dalam bentuk nonverbal. Tapi pada dasarnya semua itu bergantung pada kebutuhan. Proses mengubah isi informasi verbal menjadi nonverbal memang agak sulit. Namun, bila bahan simakan dapat ditelaah, hal itu bukan hal yang tidak dapat dilakukan. Itulah sebabnya, kita perlu berlatih dengan saksama. Cara pertama, simaklah isi informasi dengan penuh perhatian. Kedua, setelah disimak, cobalah perhatikan: Apa isinya, bagaimana uraiannya, dan dapatkah divisualisasikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengalihkan atau mengubah informasi verbal ke informasi nonverbal, adalah sebagai berikut. 1. Perhatikan dengan saksama isi informasi verbal yang ingin diubah. 2. Perhatikan data-data berupa lambang, satuan atau angka-angka serta perbandingannya untuk menentukan bentuk visual yang efektif, apakah grafik, tabel, diagram dan yang lainnya. 3. Catatlah hal-hal pokok atau inti dari informasi yang disimak. 4. Buatlah bentuk nonverbal yang tepat untuk mengungkapkan informasi tersebut. 5. Gambar, bagan, atau grafik dibuat dengan baik, benar, tepat, dan seimbang dengan isi. 6. Tentukan warna, lambang, atau bentuk untuk menggambarkan atau membedakan data-datanya. Perhatikan contoh perubahan informasi verbal menjadi informasi nonverbal di bawah ini! Contoh Thoriq, siswi Kelas 1 SMK, bercita-cita menjadi animator profesional. Untuk itu, dia memilih sekolah di SMK jurusan Grafika. Selain sekolah dan magang yang telah ditetapkan sebagai program sekolah, untuk menunjang cita-citanya tersebut, dia mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris. “Calon animator profesional” tersebut telah merencanakan setamat pendidikan nanti, jika kondisi sangat memungkinkan, dia akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Jurusan yang akan diambilnya adalah desain grafis. Jika keuangan keluarganya tidak memungkinkannya untuk kuliah, dia akan kursus desain grafis saja. Akan tetapi, jika kedua keinginannya tersebut tidak dapat terpenuhi, dia akan mengikuti balai latihan kerja (BLK) terlebih dahulu sebelum terjun ke dunia kerja. Dengan mengikuti BLK, Vika yakin akan mudah mendapat pekerjaan karena peserta pelatihan di BLK akan disalurkan kerja sesuai dengan bidang keahliannya masingmasing. Bila ikut pelatihan di BLK pun tidak memungkinkan karena kondisi keuangan keluarganya, terpaksa dia langsung bekerja di mana saja dalam bidang apa saja. Tekadnya, yang penting dia dapat menabung untuk dapat meraih cita-citanya kelak. Inti dari informasi di atas seperti berikut. 1. Thoriq bercita-cita menjadi animator profesional. 2. Thoriq memilih sekolah di SMK jurusan Grafika. 3. Tamat SMK, Thoriq berencana melanjutkan ke perguruan tinggi jika ada biaya. 4. Jika biaya tidak memungkinkan, Thoriq mengikuti latihan balai kerja (BLK). Bentuk Informasi Nonverbal yang cocok dari informasi di atas adalah bagan, yaitu: C. Menyampaikan Pendapat melalui Simpulan Secara Deduktif dan Induktif Penyimpulan secara deduktif ialah cara mengambil simpulan dari pernyataan yang bersifat umum diikuti oleh uraian atau pernyataanpernyataan yang bersifat khusus. Perhatikan contoh berikut. 1. Negara adalah institusi mapan, tetapi dinamis sehingga mampu mengantisipasi segala perubahan yang terjadi. Negara mewadahi seluruh kepentingan masyarakat. Ia Informasi dapat diperoleh dari berbagai macam sumber, di antaranya majalah, buku, surat kabar, televisi, radio,tabel, bagan, grafik, dan sebagainya. Informasi yang berasal dari media massa biasanya berbentuk tertulis. Pembaca tinggal mencari sumber-sumber terpenting dari bahan tersebut. Dalam menyusun pendapat untuk menarik kesimpulan yang benar, kita harus menggunakan pola berpikir/penalaran yang benar pula. Pola penalaran dibagi menjadi dua, yaitu deduktif dan induktif. 1. Penalaran deduktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan yang umum (premis umum/mayor) diikuti pernyataan khusus (premis khusus/minor) menarik kesimpulan terhadap hal yang khusus. Penalaran demikian disebut juga silogisme. Contoh silogisme : Setiap manusia akan mati Padahal si Ali adalah manusia Jadi, si Ali akan mati Kalimat pertama (setiap manusia akan mati) berisi pernyataan umum, atau disebut permis mayor. Kalimat kedua ( Padahal si Ali adalah manusia) berisi pernyataan khusus dan terbatas, atau dikatakan premis minor. Sedangkan kalimat ketiga (Jadi, si Ali akan mati) adalah konklusi atau kesimpulan yang ditarik dari dua premis sebelumnya. Biasanya silogisme tersusun seperti itu. Kalimat pertama (permis mayor) bersifat universal (umum), yaitu berisi pernyataan yang dianggap meliputi semua bagian dari suatu golongan tertentu. Kalimat kedua (premis minor) bersifat particular (khusus), yaitu berisi pernyataan yang merupakan bagian tertentu daripada golongan tadi. Kemudian kalimat ketiga berisi konklusi (kesimpulan) bahwa apa yang benar bagi bagian tertentu yang disebut premis minor. 2. Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan peristiwa-peristiwa khusus menuju kepada kesimpulan umum berdasarkan hal-hal tersebut. Macam-macam penalaran induktif dibawah ini. a. Generalisasi adalah penemuan kesimpulan umum berdasarkan data/kejadian kejadian bersifat khusus. Biasanya, generalisasi berangkat dari fenomena individual. Terkadang, generalisasi akan berbahaya apabila kurang berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Kesimpulan yang diambil, boleh jadi berlebihan. Sebagai contoh, setelah memperhatikan tiga orang pelajar SMK malas belajar, seseorang bisa menggenalisasir bahwa seluruh anak SMK malas belajar. Oleh karena itu generalisasi harus berdasarkan fakta-fakta, bukti-bukti yang ada akurat, tepat dan jelas. Juga harus memperhatikan kekecualian-kekecualian yang tidak sejalan dengan generalisasi tersenut (Nafiah, 1981 : 132-138). b. Sebab-akibat dimulai dengan fakta-fakta yang menjadi sebab menuju kesimpulan yang menjadi akibat. Contoh : Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal. c. Akibat-sebab dimulai pada fakta-fakta yang menjadi akibat lalu kita analisis untuk mencari sebabnya. d. Analogi adalah pengambilan kesimpulan dengan asumsi bahwa jika dua atau beberapa hal memiliki banyak kesamaan, maka aspek nilai lain pun memiliki kesamaan. Analogi biasanya dipakai juga untuk perbandingan satu dengan yang lain. Contoh : pemerintah negara dapat dianalogikan seperti permainan konser. Dalam permainan konser, para musikus harus bermain dibawah pimpinan diligent unutuk memperoleh harmoni yang indah. Begitu pula para menteri yang bekerja dibawah kordinasi presiden untuk menciptakan kemakmuran rakyat. Pada dasarnya, suatu pemerintahan negara, tidaklah identik dengan permainan konser itu sendiri namun ada aspek yang dianalogikan, yaitu diperlukan koordinasi dalam kebersamaan menjalankan tugasnya masing-masing. ( Nafiah, 1981:139) Penyimpulan induktif yaitu cara mengambil kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus menuju kesuatu kesimpulan yang bersifat umum. Perhatikan contoh berikut : 1. Penyair akan membuat sebuah puisi dengan cara menuangkan imajinasinya, barulah tercermin sebuah puisi. Pengarang novel akan merangkai : ceritanya dengan pengembangan imajinasi, demikian juga seniman akan menggoreskan lukisan didahului dengan imajinasinya kearah yang sebenarnya. Memang benar imajinasinya diperlukan untuk menciptakan suatu karya. 2. Plagiat ialah pengembalian atau penerjemahan sesuatu hasil begitu saja dengan tidak menyebutkan nama pengerang yang asli. Tetapi menurunkan nama sendiri sebagai pengarang. Plagiat tidak diperkenankan dalam dunia sastra. Banyak karya sastra yang sudah beredar merupakan karya plagiat. Mereka tidak takut jika nanti terjadi penilaian atau penyelesaian terhadap karyanya. Dalam dunia karya sastra memang ada larangan keras untuk pengarang khususnya dalam plagiat. Penyimpulan deduktif yaitu cara mengambil kesimpulan dari pernyataan-peryataan yang bersifat umum menuju ke suatu kesimpulan yang bersifat khusus. Perhatikan lagi contoh berikut : 1. Negara adalah institusi mapan, tetapi tetap dinamis sehingga mampu mengantisipasi segala perubahan yang terjadi. Negara mewadahi seluruh kepentingan masyarakat bangsa. Ia hanya menyediakan rangka umum yang bersifat abstrak sehingga terbuka untuk ditafsirkan. Sementara pemerintah adalah penata kontempoler, sebagai penyelenggara negara dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh konstitusi negara. 2. Apabila prinsip keberanian menegakan hukum itu tumbuh dimasyarakat, maka penegakan hukum akan terdorong oleh adanya kebudayaan hukum masyarakat. Aparat penegak hukum pun akan terdorong untuk menjalankan fungsinya dalam penegakkan hukum dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Penegakkan hukum akan tercapai bila memenuhi beberapa unsur yang harus ada dalam hukum itu sendiri. 3. Ilmu dikembangkan oleh manusia untuk menemukan suatu nilai luhur dalam kehidupannya yang disebut kebenaran ilmiah. Kebenaran itu dapat berupa asas-asas yang berlaku umum atau lebih, dari kaidah-kaidah universal mengenai pokok soal yang bersangkutan dengan memiliki pengetahuan yang bersifat ilmiah dan mencapai kebenaran ilmiah, manusia dapat menerangkan secara tepat berbagai hal yang dijumpainya, mempunyai gambaran yang cukup crmat mengenai aneka peristiwa yang akan terjadi, dan bahkan untuk sebagian menguasai alam bagi kemanfaatan dirinya. Perbedaan Penyimpulan Induktif dan Deduktif Penyimpulan Induktif Penyimpulan Deduktif 1. Gagasan utama terletak pada akhir kalimat. 2. Gagasan penjelasan terletak pada awal dan merupakan anak kalimat, sedangkan gagasan utama merupakan induk kalimat. 3. Peristiwa-peristiwa khusus diakhiri dengan kesimpulan umum. 1. Gagasan umum terletak paa awal kalimat. 2. Gagasan utama adalah induk kalimat, sedangkan gagasan berikutnya termasuk anak kalimat diletakkan diakhir kalimat. 3. Kesimpulan umum peristiwa-peristiwa khusus. menyediakan kerangka umum yang bersifat abstrak sehingga terbuka untuk ditafsirkan. Sementara pemerintah adalah pranata kontemporer, sebagai penyelenggara negara dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh konstitusi negara. Perhatikan contoh berikut. 1. Negara adalah institusi mapan, tetapi dinamis sehingga mampu mengantisipasi segala perubahan yang terjadi. Negara mewadahi seluruh kepentingan masyarakat. Ia Informasi dapat diperoleh dari berbagai macam sumber, di antaranya majalah, buku, surat kabar, televisi, radio,tabel, bagan, grafik, dan sebagainya. Informasi yang berasal dari media massa biasanya berbentuk tertulis. Pembaca tinggal mencari sumber-sumber terpenting dari bahan tersebut. 2. Hasil perolehan suara sementara dari penyelenggaraan pemilu pemilihan presiden tahun 2004 cukup signifikan. Peringkat pertama diraih oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dengan persentase suara terbanyak, yaitu 33,60 persen. Peringkat kedua diraih oleh pasangan Megawati dan Hasyim Muzadi dengan persentase suara 22,20 persen. Disusul peringkat ketiga yaitu pasangan Wiranto dan Salahudin. Selanjutnya peringkat keempat ialah pasangan Amin Rais dan Siswono. Terakhir adalah pasangan Hamzah Haz dan Agum Gumelar. Penyimpulan secara induktif ialah cara mengambil simpulan dari pernyataan-pernyataan atau fakta-fakta yang bersifat khusus menuju ke suatu simpulan yang bersifat umum Perhatikan contoh berikut. 1. Penyair akan membuat sebuah puisi dengan cara menuangkan imajinasinya, barulah tercermin sebuah puisi. Pengarang novel akan merangkai ceritanya dengan pengembangan imajinasi. Demikian juga seniman akan menggoreskan lukisan di dasar kain dengan imajinasinya ke arah yang sebenarnya. Memang benar imajinasi itu diperlukan yang mencipta suatu karya. 2. Plagiat ialah pengambilan atau penerjemahan sesuatu hasil begitu saja dengan tidak menyebutkan pengarang asli melainkan menurunkan nama sendiri sebagai pengarang. Plagiat tidak diperkenankan dalam dunia sastra. Banyak karya sastra yang beredar merupakan karya plagiat. Dalam dunia karya sastra memang terdapat larangan keras untuk pengarang plagiat. Menyampaikan simpulan dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan. Penyampaian harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Simpulan yang disampaikan dapat diperoleh dari informasi lisan maupun tulisan baik informasi lisan yang bersifat verbal maupun informasi tulisan yang berbentuk nonverbal. Simpulan dapat disertakan dengan opini atau pendapat. Opini adalah pandangan berdasarkan ideologi atau sikap seseorang dalam memberikan suatu wawasan terhadap objek atau peristiwa. Opini dapat juga disebut pendapat seseorang. Antonim dari opini adalah fakta. Fakta bersifat objektif, merupakan kenyataan bersifat konkret dan dapat dibuktikan kebenarannya. Kunci : • Fakta :  logis (masuk akal)  objektif (apa adanya)  faktual (berdasarkan kenyataan atau kebenaran) • Opini :  pendapat  pemikiran  asumsi (memperkirakan kebenarannya)  subjektif (menggunakan kata-kata seperti sebaiknya, mungkin, barangkali, menurut pendapat saya, dsb. ) Perhatikan tabel berikut. Pendapat/Opini Fakta 1. Pemkab. dan PT. Jasa Marga berusaha menuntaskan kesepakatan pembangunan fisik jalan tol. 2. Jalan tol Gempol–Pasuruan diharapkan mampu mendorong akselerasi pertumbuhan perekonomian kawasan. 1. Harga tanah yang dibebaskan ditetapkan Rp 80.000,- hingga Rp 400.000 per meter persegi. 2. Di Gedung Grahadi Surabaya dilangsungkan penandatanganan kesepakatan bersama. Simpulan yang di dalamnya terdapat opini dapat dilihat pada contoh di bawah ini. Contoh 1. Vika bercita-cita menjadi animator profesional. Ia pun masuk ke SMK Grafika. Di samping itu, ia juga mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris. Untuk mencapai keinginannya itu, ia berencana setelah lulus sekolah akan kuliah pada jurusan desain grafis. Jika tak mampu kuliah, ia berencana kursus desain grafis atau mengikuti balai latihan kerja (BLK). Bila tak memungkinkan, ia akan bekerja apa saja untuk mengumpulkan uang biaya kuliah. Sungguh begitu kuatnya keinginan Vika dalam mengapai citacitanya sehingga segala kemungkinan jalan yang terbaik akan dia tempuh. Contoh 2. Niat Vika setelah lulus sekolah akan meneruskan kuliah ke jurusan desain grafis. Jika tak bisa ia mau mencoba kursus desain grafis atau masuk balai latihan kerja. Namun, jika pun tak bisa, ia kemungkinan akan bekerja dulu dalam rangka mengumpulkan uang untuk biaya kuliah pada jurusan yang sama. Saat ini pun ia masuk SMK jurusan Grafika. Semua itu dilakukan atas dasar dorongan yang kuat untuk mencapai cita-citanya. Ia bercita-cita menjadi animator profesional. Contoh pertama ialah simpulan yang diuraikan secara deduktif dengan penambahan opini atau pendapat di bagian akhir paragraf. Contoh kedua ialah simpulan yang diuraikan secara induktif dengan penambahan kalimat opini sebelum kalimat terakhir yang merupakan simpulan umum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar